Proposal Penelitian Tindakan Kelas '' Upaya Guru Pai untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam materi akidah akhlak"
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Ada
pepatah mengatakan, “Guru digugu dan ditiru.” Artinya, seorang guru dipercaya
dan menjadi teladan atau contoh bagi muridnya. Apa pun yang dibicarakan dan
dilakukan oleh seorang guru, apalagi memang diperintahkan, kemungkinan besar
akan diikuti oleh muridnya. Bahkan, muridnya bisa mengembangkan lebih jauh
dibandingkan gurunya.sehingga, tidak heran jika ada pepatah lain mengatakan,
“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”
Pepatah
terakhir menggambarkan bahwa murid melakukan peniruan tingkah laku dari seorang
guru yang kurang sopan dalam kacamata etika. Murid menirunya dan bertingkah
laku lebih tidak sopan. Misalnya, gurunya hanya kencing berdiri, namun muridnya
kencing sambal berlari. Oleh karena itu, tingkah laku kurang sopan sangat tidak
pantas dilakukan seorang guru karena sangat berbahaya jika ditiru dan
dikembangkan oleh muridnya.
Tidak
ada persoalan jika murid meniru dan mengembangkan keilmuan yang dimiliki oleh
gurunya. Bahkan, merupakan sebuah keharusan, seperti penemuan atau pemikiran
guru dibidang fisika, kemudian dikembangkan oleh murid melebihi penemuan dan
pemikiran gurunya. Demikian juga, berkenaan dengan etika yang baik, murid harus
menirunya.
Sehubungan
dengan itu, dapat disimpulkan secara sederhana bahwa guru merupakan sumber ide,
pengetahuan, nilai, dan kultur muridnya. Artinya, seorang guru dalam pendidikan
berkontribusi untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM), selain buku yang
berkualitas dan sarana gedung.(E.Mulyasa:2007).
BAB
II
LANDASAN
TEORI
A. Hakikat Kompetensi guru
Secara Etimoogi Kompetensi guru terdiri
dari dua kata yaitu kompetensi dan guru. Secara etimologis kompetensi berasal
dari bahasa inggris dari kata dasar compete yang berarti bertanding, bersaing
atau berlomba. Dari kata compete di jadikan kata benda yaitu competence /
competency yang berarti kemampuan, kecakapan , atau wewenang. Secara etimologisPengertian kompetensi guru secara
terminology.
Pengertian Kompetensi secara
terminologi menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut.
Dalam merumuskan kompetensi, louise
moqvis ( 2003 ) Berpendapat bahwa Competencyhas been defined in the light of
actual circumtances reliting to the individual and work. Sementara itu , Len Holmes (1992)
mendifinisikan : A competency is a
description of something which a person who works given occupational area
should be able to do. It is a description
of an action , behavior or outcome
which a person should be able to demonstrate.
Menurut Syah (2000:230), “kompetensi”
adalah kemampuan, kecakapan, keadaan berwenang, atau memenuhi syarat menurut
ketentuan hukum. Selanjutnya masih menurut Syah, dikemukakan bahwa kompetensi
guru adalah kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya
secara bertanggung jawab dan layak. Jadi kompetensi profesional guru dapat
diartikan sebagai kemampuan dan kewenangan guru dalam menjalankan profesi
keguruannya. Guru yang kompeten dan profesional adalah guru piawi dalam
melaksanakan profesinya.Berdasarkan uraian di atas kompetensi guru dapat
didefinisikan sebagai penguasaan terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan
sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak dalam
menjalankan profesi sebagai guru.
Mengacu pada pengertian kompetensi
diatas, kompetensi guru dapat di maknai sebagai gambaran tentang apa yang harus
di lakukan seorang guru dalam melakukan pekerjaannya, baik berupa kegiatan,
perilaku maupun hasil yangdapat di tunjukkan dalam peroses belajar mengajar.
1. Kompetensi guru dalam konteks kebijakan Nasional
Dalam konteks
Kompetensi guru dalam konteks kebijakan pendidikan Nasional , pemerintah telah
merumuskan empat jenis kompetensi guru
sebagaimana tercantum dalam penjelasan peraturan pemerintah No.19 tahun
2005 tentang Standar Pendidikan Nasional Pendidikan , Yaitu :
a.
Kompetensi
Pedagogik
Kompetensi
Pedagogik yang harus di kuasai guru meliputu pemahaman guru terhadap siswa,
perncangan dan pembelajaran , evaluasi hasilbelajar, dan pengembangan siswa
untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang di milikinnya. Secara rinci ,
tiap subkompetensi di jabarkan menjadi indikator esensial sebagai berikut :
1)
Memeahami siswa
secara mendalam, dengan indikator esensial, memahami siswa dengan
memanfaatkan prinsip prinsip
perkembangan kognitif, memahami siswa dengan memanfaatkan prinsip prinsip
keperibadian, dan mengidentifikasi bekal ajar awal siswa.
2)
Merancang
pembelajaraan, termasuk memahami landasan pendidikan untuk kepentingan
pembelajaraan, dengan indikator esensial,: memahami landasan kependidikan;
menerapkan teori belajar dan pembelajaraan dan materi ajar.
3)
Melaksanakan
pembelajaraan , dengan indikator esensial :menata latar pembelajaraan dan melaksanakan pembelajaran yang kondusif.
4)
Merencanakan
dan melaksanakan evaluasi pembelajaran,
dengan indikator ensesial: merancang dan melasanakan evaluasi dan hasil belajarsecara berkesinambungan dengan
berbagai metode ; menganalisis hasil evauasi proses dan hasil belajar untuk menentukan tingkat ketuntasan belajar,
dan memeanfaatkan hasil penilaian pembelajaran untuk perbaikan kualitas program
pembelajaran secara umum.
5)
Mengembangkan
siswa untuk megaktualisasikan berbagai potensinnya dengan indikator esensial:
memfasilitasi siswa untuk pengembangan berbgai potensi akademik, dan
memfasilitasi siswa untuk mengembangkan berbagai potensi akademik.
b.
Kompetensi
keperibadian
Menurut Hall dan
lindzey ( 1970 : 167 ) , keperibadian dapat di defenisikan sebagai berikut ,”The personality is not series biographical facts but something more general and enduring in inferred form the facts” Kompetensi
keperibadian bagi guru merupakan kemampuan
personal yang mencerminkan keperibadian
yang mantap , stabil, dewasa, arif, rinci , subkompetensi
keperibadian yang terdiri atas :
1)
Keperibadian yang
mantap dan stabil , denagn indikator
Esensial : bertindak sebagai norma hukum; bertindak sesuai denagan norma sosial ; bangga sebagai guru
yang profesioanal, dan memilikki
konsitensi dalam bertindak sesuai norma yang berlaku dalam kehidupan.
2)
Keperibadian yang dewasa degan idikator esensial:
menampilkan kemandirian dalam bertindak
sebagai pendidik dan memiliki etos kerja
yang tinggi
3)
Keperibdaian yang
arif, dengan ndikator esensial , menampilkan tindakan yang di dasarkan pada kemanfaatan siswa,
siswa dan sekolah serta menujukan keterbukaan dalam berpikir dan bertindak.
4)
Akhlak Mulia dan
daat menjadi teladan, dengan indikator esensial : bertindak dengan sesuai
dengan norma agama, iman dan takwa , jujur ,ikhlas , suka menolong dan memiliki
perilaku yang pantas di teladani siswa
5)
Keperibadian yang
berwibawa, dengan indikator esensial : memiliki perilaku yang berengaruh
positif terhadap siswa dan meimiliki perilaku yang di segani.
c.
Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial
merupakan kemampun yang harus di miliki guru untuk berkonunikasi dan begaul
secara efektifdenag siswa , sesama pendidik, tenaga pndidikan , orang tua/ wali
siswa dan masyarakat sekitar. Kompetensi ini memiliki subkompetensi denga
indikator esensial sebagai berikut:
1)
Mampu
berkomunikasi dan bergau secara efektif dengan siswa, dengan indikator esensial
: berkomunikasi secara efektifdenagan siswa; guru bisa memahami keinginan dan
harapan siswa.
2)
Mampu
berkomunikasi dan bergau secara efektif dengan pendidik dan tenaga
kependidikan, misalnya berdsikusi tentang masalah-masalah yang di hadapi serta
solusinya.
3)
Mampu
berkomunikasi dan bergau secara efektif dengan orang tua / wali siswa dengan
masyarakat sekitar
d.
Kompetensi
Profesioanal
Kompetensi
profesional merupakan penguasaan materi
pembelajaraan secara luas dan mendalam
yang harus di kuasai guru mencakup penguasaan materi kurikulum mata pelajaran di sekolah dan substansi
keilmuan yang menaungimateri , serta penguasaan struktur dan metodologi
keilmuan. Setiap subkompetensi
tersebut memiliki indikator esensial
sebagai berikut:
1)
Menguasai
substansi keilmuan ynag terkait bidang
studi ; hal ini berarti guru harus memahami
materi ajar kurikulum yang ada di sekolah; memahami struktur , konsep
dan metode keilmuan yang menaungi dan koheren denagan materi ajar; memahami
hubugan konsep-konsep keilmuan dalam proses belajar-mengajar.
2)
Menguasai struktur
dan metode keilmuan memiliki implikasi
bahwa guru harus menguasai langkah-langkah penelitian dan kajian keritis untuk
memperdalam pengetahuan / matri dalam bidang studi.
e. Kompetensi Dalam Mengajar.
Dalam mengajar, guru
harus dapat merangsang keadaan siswa agar kondisi siswa siap menjalani kegiatan
belajar mengajar. Untuk itu, ada beberapa aspek yang harus guru kembangkan
dalam kegiatan belajar mengajar yaitu sebagai berikut.
1) Mengajar dan mengembangkan potensi
siswa
Gaya
guru dalam mengajar di kelas pada umumnya di pengaruhi oleh presepsi guru itu seniri tentang mengajar.
Jika seorang guru mempunyai presepsi
bahwa mengajar adalah hanya
mnyampaikan ilmu pengetahuan , maka dalam mengajar guru tadi menempatkan
siswa sebagai wadah yang harus di isi
oleh guru .Menurut Celdic ( 1995 : 23 ), guru-guru mendefiisikan tujuan mengajar secara berbeda-beda. Ia
mengelompokkan definisi-definisi itu ke dalam empat kategori :
a)
Transfering. Dalam model ini, mengajar dilihat sebagai
peroses pemindahan dari seorang guru kepada orang lain / siswa .
b)
Shaping. Dalam model ini,
Pembelajaran merupakan pembentukan karakter siswa pada bentuk-bentuk ideal yang
di tentukan.
c)
Travelling. Dalam model
ini,pengajaran dilihat pebimbingan siswa
melalui mata pelajaraan.
d)
Growing. Model ini memfokuska
pengajaran dan pengembangan kecerdasan , fisik, dan emosi siswa.
2) Merancang Pembelajaran yang menarik
Pembelajaran
Menarik adalah pembelajaran yang di
dalamnya adacerita , nyanyian , dan tantangan dan rasa ingin tahu siswa .
Gurunya santai dan humoris, , namun memiliki kesungguhan dan menjembatani dan menolong siswa dalam menguasai materi
pelajaran melalui cara-cara yang mudah dan cepat dan menyenagkan.. dalam
peruses pembelajaran , siswa memang harus di kondisikan secara positif sehingga tumbuh perasaan senag dan memiliki
motivasi untuk memerhatikan seluruh
materi yang di sampaikan oleh guru. Jika ukurannya hanya berfokos pada siswa
dan senang memerhatikan mata pelajaran, mungkin tujuan pembelajaran tidak akan
tercapai. Pasalnya , siswa bisa saja bertindak seolah-olah senang atau
seolah-olah memerhatikan agar guru merasa senang, sehingga guru tidak marah
kepada mereka.
Pembelajaran yang menarik bukanlah sekedar
menyenagkan tanpa target. Ada sesuatu yang ingin di capai dalam proses
pembelajaran , yaitu pengetahuan atau keterampilan baru.Jadi, pembelajaran menarik
harus mamapu memfasilitasi siswa
untuk bisa berhasil mencapai tujuan pembelajaran secara optimal , dengan cara
mudah , cepat dan menyenagkan.
Pembelajaran yang
menarik dapat mengurangi atau menghilangkan beban psikologi siswa. Hal
ini tentunya mengefektifkan dan
mengefesienkan aktifitas belajar –mengajar di kelas. Pembelajaran efektif dan
efesien membutuhkan kerja sama yang kompak antar guru dan siswa. Dalam
proses pembelajaran yang harus terjadi
interaksi yang intensif anatar komponen
system pembelajaran .
3) Membangun pembelajaran yang menarik
Untuk
menunjukan pembelajaran yang menarik dan memberian tujuan dan arah yang jelas terhadap proses pembelajaran, Willaiam Watson
purkey dala artikelnya bertajuk “ Preparing
Invitational Teachers for next century Schools”. ( Slick , 1995:1
sampai 3 ) menyarankan empat hal yang harus ada da di penuhi dalam setiap pembelajaraan. Pertama, Kepercayaan. Proses pembelajaran searusnya merupakan kegiatan
bersama dan saling mendukung anatara guru dan siswa. Kedua, Rasa hormat. Rasa Hormat dapat di wujudkan melalui rasa
kepedulian yang mendalam terhadap para siswa. Ketiga. Optimisme. Setiap siswa mempunyai potensi yang tak
terbatas. Keempat, Kesengajaan. Sesungguhnya siswa bisa mengenali potensi yang dimilikinya. Berdasarkan hal itu, guru dapat merancang program pembelajaran
bagi siswa. Ini dapat di lakukan secara
sengaja untuk megukur dan mengetahui
sejauh mana potensi siswa dalam dalam mempelajari suatu bahan ajar.
2. Memahami gaya mengajar guru adalah gaya
belajar sisiwa
Kondisi umum para
siswa di sekolah sangatlah unik, perbedaan karakter siswa kerap menjadi masalah
bagi pihak sekolah, terutama bagi guru yang langsung bersentuhan dengan siswa
dalam peruses pembelajaraan. Perbedaan
karakter pada siswa , seperti adanya siswa yang normal , nakal , gagal , dan
lambat belajar, serta mempunyai kterbelakangan mental adalah hal yang lumrah,
sebab setiap manusia yang terlahir ke dunia ini dalam keadaan yang berbeda satu
sama lain.perbedaan karkter yang di
pengaruhi oleh faktor genetik dan
lingkungan mentrasformasikan seorang
manusia menjadi individu yang memiliki
karakter dasar yang unik.oleh karena itu , guru harus bisa memahami perbedan
kemamapuan siswa yang akan belajar
sebelum proses belajar-mengajar yakni kecerdasan siswa yang beragam.
Penelitian yang di
lakukan Howard Gardner (2001) menemukan bahwa ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecendrngan jenis
kecerdasan yang di milikioleh siswa tersebut. Artinya, jika seorang
memiliki kecendrungan kecerdasan visual-spasial, gaya belajarnya akan di
tunjukkan dengan banyak mengingat apa
yang di lihat dari pada yang di dengar, senang membaca dari pada di bacakan,
senang menggambar dan mendesain, serta senang berdemonstrasi dari pada ceramah.
Gaya belajar ini menjadi modal bagi guru untuk menerapkan gaya mengajarnya sesuai dengan gaya belajar siswa tersebut.
Bila guru
berhasil masuk kedunia siswa lewat
penyesuaian gaya belajarsiswa , dapat di
pastikan akan menyukai guru dan sekaligs menyukai mata pelajaran yang di ajarkanya. Oleh karena itu, seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing.
Kemudian setiap guru harus menyesuaikan gaya
mengajarnya dengan gaya belajar siswa
yang telah di ketahui dari hasil
pengamatan kecerdasan siswa tersebut.[2]
B.
Model Pembelajaran
CBSA
1.
Pengertian dan Hakikat CBSA
Yang
dimaksud dengan “Cara Belajar Siswa Aktif”
(CBSA) adalah aktivitas pembelajaran siswa aktif. Dalam proses
pembelajaran, siswa berpartisipasi aktif dan memungkinkan siswa belajar sendiri
(self activity). Walaupun demikian, bukan berarti guru tidak berperan.
Guru menjadi fasilitator, motivator, dan ikut memberi arahan dalam
menyelesaikan permasalahan. CBSA (student active learning) memungkinkan
proses belajar tuntas, baik dari sisi materi maupun penyerapan pelajaran.[3]
Kadar kegiatan yang tinggi dan siswa ini, tidaklah berarti bahwa kegiatan
mengajar guru akan menurun atau berkurang. Dalam pelaksanaannya, bahan
pengajaran sudah terprogram sedemikian rupa, sehingga bahan tersebut sesuai dan
bermanfaat bagi para siswa dalam kehidupannya, baik sekarang maupun pada masa
yang akan datang, sebagai individu dan juga sebagai anggota masyarakat. Cara
belajar ini mendasarkan pola pengajaran: “child (student) in
this society-centered instruction” dan bukan “teacer (Instructor)
centered instructor.” Pola pengajaran ini mencoba mencari keseimbangan
antara kepentingan siswa dan kepentingan masyarakat dalam proses
belajar-mengajar. (Ramayulis, 2008 : 227)
Karakter
CBSA sebenarnya keterlibatan individu dan siswa (piker dan rasa) pada kegiatan
belajar mengajar. Pembelajaran berkaita dengan assimilasi kognitif dalam mencapai
pengetahuan (knowledge), pembentukan sikap (attitude), dan
keterampilan (skill) melalui kebiasaan dan latihan. Kesemuanya merupakan
internalisasi untuk mendapatkan, mengelola, menggunakan, menentukan dan
mengkoordinasikan hasil belajar.
CBSA merupakan pola
yang dapat menyeimbangkan pola pengajaran yang berpusat pada guru dan
pengajaran, tetapi lebih kepada siswa. Pola pengajaran ini dapat dilakukan
secara individu dan kelompok. Konsep-konsep pokok CBSA memberikan kesempatan
pada anak didik untuk:
a.
Mempelajari materi atau
konsep dnegan penuh keasyikan melalui perbuatan.
b.
Mempelajari dan mengalami
serta memenuhi sendiri untuk mendapatkan suatu pengetahuan.
c.
Merasakan sendiri kegunaan,
berhati terbuka, mengembangkan rasa ingin tahu, jujur, tekun, disiplin, rapi,
kreatif, dan terikat pada tugas yang diberikan.
d.
Belajar dalam kelompok,
menemukan sifat dan kemampuan sendiri serta sifat dan kemampuan teman-teman
sekelomok.
e.
Memikirkan dan mencoba
sendiri serta mengembangkan konsep dan nilai tertentu.
f.
Menemukan dan mempelajari
kejadian atau gejala yang dapat membangun gagasan/ ide tertentu.
g.
Menunjukkan kemampuan untuk
mengkombinasikan penemuan dan penghayatan nilai-nilai, baik secara lisan,
tulisan, maupun penampilan.
Dalam CBSA guru guru dianggap mudah menstimulasi belajar kepada anak
sehingga hasil belajar belajar akan mengikat.
Dengan CBSA, guru tidak akan berhenti belajar. Ia akan terus menyelidiki
dan memperdalam pengetahuannya. Pola pengajaran ini lebih berorientasi pada proses
pembelajaran yang dapat melibatkan anak secara langsung. Proses ini dianggap
lebih baik daripada pembelajaran yang hanya berorientasi pada konsep-konsep
yang abstrak.
Untuk lebih memudahkan pemahaman keragaman makna pengertian belajar
mengajar itu dapat pula dilakukan tinjauan dari berbagai segi.
1)
Ditinjau dari segi jenis
kegiatan guru, yaitu:
a)
Pemberian penjelasan verbal
b)
Demonstrasi
c)
Pemeliharaan tata tertib
kelas
d)
Penjagaan mental siswa
e)
Penilaian hasil belajar
2)
Ditinjau dari segi tujuan
belajar yang hendak dicapai, yaitu:
a)
Kognitif
b)
Afektif
c)
Psikomotorik
2.
Komponen-komponen CBSA
Untuk
mencapai suasana belajar yang baik komponen-komponen CBSA dalam pengajaran
adalah.
a.
Komponen bahan pelajaran,
meliputi.
1)
Bahan pelajaran
2)
Bahan pelajaran mencakup
multidimensi, jika diukur dari sudut waktu, ruang dan tujuan (sasarannya).
b.
Pengorganisasian dan
pengembangan bahan, meliputi.
1)
Expending community
approach
2)
Interdiciplinair
3)
Open-ended
4)
Sesuai dengan tingkat
kematangan siswa
c.
Komponen siswa
1)
Siswa harus diperlakukan
tidka hanya sebagai objek, tetapi juga sebagai subjek, dimana seluruh potensi
siswa dapat difungsikan, baik bahan pelajaran guru, media, suasana belajar,
kawan-kawan sebaya dan lain-lainnya.
2)
Ketertiban siswa dalam
proses belajar, meliputi.
a)
Membuka dan mendorong
kesempatan/ keberanian siswa untuk mengemukakan pertanyaan, mengemukakan
tanggapan dan pendapat serta kemauan dan keinginannya belajar,
b)
Memberikan kesempatan
kepada siswa untuk belajar sesuai caranya sendiri.
c)
Mendorong minat siswa untuk
mengetahui lebih lanjut.
d.
Komponen guru
1)
Sesuai dengan program
2)
Sebagai pelaksanaan
bersifat menolong dan bersahabat
3)
Sebagai pemberi hadiah (Rewarder)
yang supportif dan objektif
4)
Sebagai pengambil keputusan
yang terampil
5)
Sebagai manager yang
berwibawa
6)
Sebagai evaluator yang
mampu dan terlatih
7)
Sebagai peneliti yang mampu
memanfaatkan belajar
Sebagai
fasilitator seorang guru harus dapat memainkan lima peranan, yaitu
1)
Menciptakan suasana kelas
yang cocok, menyenangkan dan bebas
2)
Membantu dan mendorong
siswa dalam mengungkapkan pikirannya serta menjelaskan tujuan
3)
Membantu kegiatan belajar
dan menyediakan sumber/ peralatan serta membantu kelancaran belajar siswa
4)
Membina keadaan agar setiap
orang merupakan sumber belajar yang bermanfaat bagi yang lainnya
5)
Mengatur penyebaran dan
pertukaran pesan dan pikiran antar kelompok
e.
Komponen media
Yang dimaksud dengan media disini adalah dalam pengertian yang luas,
dimana termasuk metode, alat serta kegiatan yang ada dalam CBSA dapat dibina,
degan mengguanakan berbagai metode dan berbagai media yang dapat mengaktifkan
siswa.
f.
Komponen evaluasi
Pemakaian teknik evaluasi tradisional, tidak dapat menghasilkan CBSA yang
berkadar tinggi. Guru hendaklah memakai teknik penilaian yang beragam, tidak
hanya menggunaka bermacam tes objektif saja, tetapi juga dengan menggunakan
bermacam-macam tes, seperti tes lisan, tertulis, observasi, dan lain
sebagainya.[4
METODE PENELITIAN
A.
Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah jenis
penelitan deskriptif kualitatif dengan menggunakan penelitian tindakan kelas.
B.
Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini
adalah buku referensi tentang profesionalisme guru dan referensi tentang metode
dan pendekatan pembelajaran, wawancara terhadap guru yang bersangkutan,
penggalian informasi berupa dokumen sekolah.
Komentar
Posting Komentar